Bahaya Bayi Turut Terkena Efek Narkotika
Sudah bukan rahasia lagi bahwa penyalahgunaan narkotika mampu menghancurkan kehidupan seseorang. Namun, bayi turut terkena efek narkotika menjadi salah satu tragedi paling menyedihkan yang bisa dialami keluarga.
Anak kecil yang masih sangat rentan bisa mengalami dampak serius, mulai dari gangguan perkembangan psikis, berbagai masalah kesehatan berkelanjutan, hingga ancaman jiwa. Bahaya ini tidak hanya muncul akibat konsumsi narkotika oleh ibu selama kehamilan atau menyusui, melainkan juga dari paparan lingkungan akibat perilaku ayah atau anggota keluarga lain yang menyalahgunakan narkoba.
Mari kenali lebih lanjut mengenai dampak penyalahgunaan narkoba bagi anak.
Bayi Turut Terkena Efek Narkotika
Dampak dari penyalahgunaan dan ketergantungan narkotika berpengaruh pada berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan, ekonomi, sosial, dan banyak lagi.
Bahkan penyalahgunaan narkotika juga membawa efek negatif yang signifikan bagi kesehatan dan perkembangan anak. Ketahui juga berapa lama sabu bertahan dalam tubuh dan bagaimana dampaknya bagi kesehatan ibu dan janin.
Risiko tersebut dihadapi oleh anak pada semua usia, termasuk bayi yang masih dalam kandungan. Berikut efek samping obat obatan terlarang bagi bayi:
1. Heroin
Heroin termasuk jenis narkoba yang adiktif. Selain itu, heroin dapat memasuki plasenta sehingga mempengaruhi janin dalam rahim.
Bayi dari ibu yang menyalahgunakan heroin berisiko mengalami ketergantungan terhadap obat ini. Setelah lahir, bayi dapat mengalami gejala putus obat yang disebut sebagai neonatal abstinence syndrome (NAS).
Bayi dengan kondisi tersebut dapat mengalami gejala seperti:
Menangis dengan berlebihan
Mudah marah atau rewel
Sulit tidur
Menyedot dengan cara berlebihan
Tidak nafsu makan, pertambahan berat badan lambat
Diare, muntah
Demam
Kulit bercak-bercak
Berkeringat
Napas cepat
Hidung tersumbat, bersin
Refleks hiperaktif
Gemetar, bayi kejang
2. Ganja
Ganja termasuk jenis narkotika yang paling sering disalahgunakan. Apabila penyalahguna dalam kondisi hamil, maka efek ganja bisa mempengaruhi bayi.
Mengutip dari NIDA (National Institute on Drug Abuse), ganja mempengaruhi pertumbuhan janin, sehingga dapat menyebabkan berat dan panjang badan kurang saat lahir.
Penyalahgunaan ganja juga berpotensi menyebabkan kelahiran prematur. Selain itu, penelitian menunjukkan bayi dari ibu yang menggunakan ganja mengalami gangguan perkembangan sistem saraf.
Kondisi tersebut ditandai dengan gejala seperti tangisan bernada tinggi, gangguan penglihatan, dan tubuh gemetar.
Sementara itu, penyalahgunaan ganja oleh ibu menyusui dapat menyebabkan penurunan perkembangan motorik bayi. Penyalahgunaan narkotika juga berisiko mempengaruhi perkembangan otak bayi. Penyalahgunaan narkotika juga meningkatkan risiko penularan penyakit, termasuk cara pencegahan HIV AIDS yang perlu dipahami sejak dini.
3. Kokain
Bahaya narkoba bagi tubuh ibu hamil yang menyalahgunakan kokain meliputi migrain, kejang-kejang, pecahnya ketuban secara prematur, solusio plasenta (terpisahnya lapisan plasenta dari uterus).
Sementara itu, bayi yang terlahir dari ibu yang menggunakan kokain selama mengandung dapat memiliki berat badan kurang dan lingkar kepala yang lebih kecil. Panjang tubuh bayi juga bisa lebih pendek daripada normal.
Selain itu, bayi dapat menunjukkan beberapa gejala seperti:
Rewel
Hiperaktif
Tremor
Menangis dengan suara tinggi
Menyedot ASI dengan cara berlebihan
4. Metamfetamin
Metamfetamin atau sabu-sabu juga dapat mengakibatkan dampak buruk bagi ibu hamil dan bayi.
Ibu yang menyalahgunakan sabu selama mengandung memiliki risiko lebih tinggi mengalami preeklamsia, melahirkan prematur, dan solusio plasenta.
Bayi yang mereka lahirkan juga berpotensi lebih kecil dan berat badannya kurang dari normal. Paparan ganja juga bisa mengakibatkan bayi lebih reaktif secara emosional, mengalami kecemasan, bermasalah dengan konsentrasi, dan kognitif.
Efek bayi terkena asap sabu juga termasuk risiko keracunan substansi sabu.
5. Nikotin
Penyalahgunaan nikotin juga dapat mengarah pada bayi turut terkena efek narkotika. Pasalnya, nikotin termasuk substansi yang mampu melalui plasenta.
Bahkan kadar nikotin dalam darah janin bisa mencapai 15% lebih tinggi daripada kadar dalam darah ibu.
Merokok selama kehamilan meningkatkan risiko beberapa cacat bawaan, kelahiran prematur, keguguran, dan berat badan rendah saat lahir.
Bahaya nikotin bagi bayi bukan itu saja. Mengutip dari NIDA, penggunaan nikotin diperkirakan sudah menyebabkan lebih dari 1.000 kematian janin setiap tahun.
Seperti halnya saat hamil, ibu menyusui sebaiknya juga menghindari nikotin atau rokok tembakau. Hal ini karena nikotin diteruskan ke dalam ASI, sehingga bisa mempengaruhi perkembangan tubuh dan otak bayi.
Sementara itu, paparan asap nikotin dari selain ibu membuat bayi berisiko tinggi mengalami kondisi berikut:
SIDS (Sudden Infant Death Syndrome)
Penyakit pernapasan, seperti asma, bronkitis, dan infeksi pernapasan
Infeksi telinga
Gigi berlubang
Risiko Penyalahgunaan Narkotika oleh Ayah
Sebelumnya sudah disinggung bahwa bayi turut terkena efek narkotika tidak terbatas oleh penyalahgunaan yang dilakukan ibu, melainkan oleh ayah.
Studi oleh tim dari Perelman School of Medicine, University of Pennsylvania menunjukkan bahwa anak laki-laki dari ayah yang ketergantungan kokain berisiko tinggi mengalami kesulitan belajar.
Hal tersebut diduga karena penyalahgunaan kokain yang berlangsung lama dapat menyebabkan perubahan pada gen ayah.
Efek jangka panjang tersebut dapat merugikan masa depan anak, meskipun anak tidak pernah menggunakan narkoba.
Sayangnya, belum banyak penelitian mengenai efek narkotika oleh ayah. Hal ini karena umumnya penelitian lebih fokus pada efek akibat penyalahgunaan oleh ibu.
Namun, penyalahgunaan narkotika dalam jangka panjang telah terbukti dapat menyebabkan disfungsi seksual. Kondisi tersebut menyebabkan pria kesulitan ejakulasi dan mengalami penurunan dorongan seksual.
Selain itu, terdapat banyak efek berhubungan dengan pemakai narkoba yang perlu calon orang tua waspadai. Salah satunya yaitu risiko penularan penyakit seksual, seperti gonore, HIV, hepatitis, dan sifilis.
Efek Penyalahgunaan Narkotika pada Anak
Narkotika membawa dampak negatif bagi anak pada semua usia perkembangan. Mulai dari sebelum lahir, setelah lahir, saat masih kecil, hingga sebagai remaja.
1. Efek Penyalahgunaan Narkotika Selama Kehamilan
Penyalahgunaan narkotika selama kehamilan berisiko menyebabkan efek berikut:
Keguguran
Lahir prematur
Bayi lahir dengan berat badan kurang
Perilaku yang tidak normal akibat masalah saraf
Cacat bawaan
2. Efek Jangka Panjang pada Anak
Penyalahgunaan narkotika juga berkaitan dengan berbagai efek mental dan perilaku jangka panjang pada anak yang terpapar. Berikut beberapa di antaranya:
Mengalami gangguan kognitif, perilaku, dan masalah kemampuan bahasa
Disabilitas intelektual atau IQ rendah
Masalah ingatan dan konsentrasi
Hiperaktif
Keterlambatan bicara dan kemampuan bahasa
Kesulitan belajar
3. Efek Psikologis pada Anak
Selain mengakibatkan berbagai efek negatif bagi kesehatan fisik dan perkembangan anak, penyalahgunaan narkotika oleh orang tua juga dapat berdampak secara psikologis.
Hal ini karena ketergantungan sering kali menyebabkan orang tua tidak mampu menjalankan peran mereka untuk mengasuh anak dengan baik. Ketergantungan juga berisiko menyebabkan keluarga mengalami kesulitan finansial dan disfungsi sosial.
Lebih lanjut lagi, penyalahguna narkotika kerap menunjukkan perilaku agresif dan kekerasan yang mana dapat mempengaruhi anak.
Anak dari orang tua yang ketergantungan narkotika berisiko melakukan hal-hal berikut sejak usia belia hingga dewasa:
Ketergantungan alkohol atau narkoba
Kekerasan
Marah dan kebencian
Kesulitan membentuk hubungan dengan orang lain
Kesulitan di sekolah, termasuk prestasi akademik yang buruk dan tingkah laku tidak sopan
Keluar dari sekolah
Mengalami gangguan mental
Melakukan hubungan seksual sebelum usia dewasa
Perilaku membangkang
Cenderung terlibat hubungan yang tidak sehat
Mengucilkan diri sendiri

Posting Komentar untuk "Bahaya Bayi Turut Terkena Efek Narkotika"