Berapa Lama Sabu Bertahan dalam Tubuh?
Seperti halnya penggunaan narkoba jenis lain, efek sabu sering kali berlangsung selama beberapa saat. Namun, berapa lama sabu bertahan dalam tubuh bisa berbeda-beda bagi setiap individu.
Hal tersebut karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi lama obat berada dalam sistem tubuh. Selama sistem tubuh belum bersih dari ganja, maka senyawa dalam narkoba ini akan terdeteksi dalam urin, darah, saliva, bahkan rambut.
Simak lebih lanjut untuk mengetahui lama sabu bertahan dalam sistem tubuh.
Berapa Lama Sabu Bertahan dalam Tubuh?
Sabu atau methamphetamine merupakan narkoba jenis stimulan yang bekerja merangsang sistem saraf pusat sehingga menghasilkan efek euforia.
Efek sabu biasanya terasa sangat kuat namun hanya berlangsung singkat, yakni antara beberapa menit hingga beberapa jam saja, tergantung dosis dan cara penggunaan. Walaupun sensasi euforia dan energi tinggi cepat memudar, residu zat tersebut masih bisa menetap jauh lebih lama di dalam tubuh. Bahkan setelah rasa “senang” itu hilang sepenuhnya, senyawa sabu masih terdeteksi dalam sistem tubuh untuk waktu yang cukup panjang.
Pada kebanyakan orang, sabu memiliki waktu paruh sekitar 10 jam. Hal tersebut berarti sekitar setengah dosis akan hilang dari tubuh setelah 10 jam. Sementara sekitar seperempat dosis tetap bertahan sehari setelah penggunaan terakhir.
Berapa lama sabu bertahan dalam tubuh berdasarkan pada jalur metabolisme untuk mengubah sabu (methamphetamine) menjadi amphetamine. Proses ini membutuhkan waktu hingga beberapa hari.
Umumnya, sabu dan sisa senyawa kimiawi dalam sabu masih terdeteksi dalam cairan tubuh hingga beberapa hari bahkan beberapa bulan.
Sabu biasanya masih terdeteksi dalam urin hingga 3 sampai 7 hari setelah dosis penggunaan terakhir.
Jenis Tes untuk Deteksi Sabu
Kisaran waktu sabu tahan berapa lama setelah penggunaan bisa bervariasi antara satu individu dengan yang lain.
Lama sabu bertahan juga bisa berbeda tergantung jenis tes yang digunakan untuk mendeteksi, sebagai berikut:
1. Tes Urin
Tes urin termasuk metode deteksi narkoba yang paling umum digunakan. Hal ini karena tes urin relatif cepat dan non invasif.
Pengetesan berlangsung dengan meminta individu terkait mengumpulkan sampel urin. Sampel tersebut kemudian dianalisis untuk menentukan kadar berbagai senyawa yang terkandung di dalamnya.
Sabu bisa terdeteksi dalam tes urin antara 1 sampai 5 hari setelah penggunaan terakhir. Namun, pada kasus penggunaan berat, sabu bisa terdeteksi dalam urin hingga 7 hari.
2. Tes Darah
Keberadaan sabu dapat terdeteksi melalui tes darah yang berlangsung beberapa jam setelah penggunaan terakhir. Tes darah juga masih bisa mendeteksi sisa sabu hingga 3 hari setelah penggunaan.
3. Tes Saliva
Tes saliva (ludah) terbilang jarang digunakan. Hal ini karena senyawa narkoba cenderung sulit untuk terdeteksi dari saliva setelah melewati kurun waktu tertentu.
Keberadaan sabu dalam sistem tubuh dapat terdeteksi dalam saliva 10 menit setelah penggunaan. Tes saliva juga masih bisa mendeteksi sabu hingga 4 hari setelah penggunaan terakhir.
4. Tes Rambut
Deteksi sabu dalam folikel rambut bisa memerlukan proses yang lebih lama. Selain itu, biaya tes rambut lebih mahal daripada jenis tes lainnya.
Namun, metode ini mampu mendeteksi secara lebih akurat dan melacak sisa obat yang waktu penggunaan terakhirnya sudah lama berlalu.
Sabu bisa terdeteksi melalui tes rambut hingga 90 hari setelah dosis terakhir penggunaan.
5. Tes Kuku
Deteksi sabu juga dapat dilakukan menggunakan kuku jari. Sabu bisa bertahan dalam kuku hingga 3 sampai 6 bulan setelah penggunaan terakhir.
Faktor yang Mempengaruhi Berapa Lama Sabu Bertahan dalam Tubuh
Ada berbagai faktor yang mempengaruhi berapa lama bekas narkoba hilang di tubuh kita. Alhasil, waktu deteksi bisa bervariasi antara satu individu dengan yang lain.
Beberapa faktor umum yang mempengaruhi yaitu intensitas dan lama penyalahgunaan berlangsung. Semakin lama dan sering korban penyalahguna terjerat sabu, maka akan terdapat sisa sabu yang lebih banyak dalam sistem tubuhnya.
Kemudian, dosis penggunaan sabu juga berpengaruh. Penggunaan sabu dalam dosis yang lebih besar menyebabkan tubuh memerlukan waktu lebih lama untuk memprosesnya. Sehingga lebih lama pula waktu hingga sistem bersih dari sabu.
Kondisi kesehatan juga ikut berpengaruh. Orang dengan kondisi kesehatan umum yang sehat akan mampu menghilangkan sabu dengan lebih cepat.
Hal tersebut karena organ hati pada orang sehat mampu bekerja secara efisien menghilangkan zat-zat beracun dari dalam tubuh. Berkat itulah, eliminasi sabu dapat berlangsung lebih cepat daripada orang yang memiliki masalah kesehatan.
Selain faktor umum tersebut, beberapa faktor berikut dapat ikut mempengaruhi berapa lama sabu hilang saat di tes urin:
Tingkat kemurnian sabu
Berat badan
Usia
Jenis kelamin
Penggunaan bersamaan dengan substansi lain
Kebugaran fisik
Cara Menghilangkan Sabu dari Tubuh
Beragam informasi dan klaim beredar luas di internet tentang cara cepat menghilangkan jejak sabu dari urin.
Namun, faktanya tidak ada cara cepat yang dapat menghilangkan sabu dari dalam sistem tubuh.
Hal ini karena hati memerlukan waktu untuk memproses sabu hingga dapat mengeluarkannya dari dalam tubuh.
Jadi, Anda sebaiknya menghindari mengikuti trik tertentu maupun menggunakan produk seperti minuman yang bisa menghilangkan efek sabu.
Salah satu contohnya yaitu baking soda bomb yang merupakan campuran dari air, baking soda, dan pemutih. Menurut klaimnya, resep ini bisa membersihkan sabu melalui urin.
Akan tetapi, resep tersebut tidak terbukti secara klinis dan sangat berbahaya. Pasalnya, mengkonsumsi pemutih dapat mengarah pada berbagai dampak merugikan, seperti kerusakan hati, ginjal, dan usus, bahkan kematian. Selain dampak fisik, penyalahgunaan narkoba juga bisa menyebabkan trauma mental yang berkepanjangan.
Satu-satunya cara aman untuk menghilangkan efek sabu adalah dengan membiarkan proses berlangsung dan menghentikan konsumsi supaya kadarnya tidak bertambah.
Namun seperti halnya narkoba lain, penghentian sabu secara tiba-tiba bisa menyebabkan gejala sakau yang cukup berat. Sehingga sebaiknya penghentian dilakukan secara bertahap. Selain itu, penggunaan sabu saat hamil sangat berbahaya. Baca juga tentang bahaya bayi terkena efek narkotika.
Cara Menghentikan Penggunaan Sabu
Sabu termasuk stimulan kuat yang memiliki potensi penyalahgunaan tinggi. Pasalnya, sabu tergolong narkoba yang murah dan mudah diperoleh.
Selain itu, sabu merupakan jenis narkoba yang sangat adiktif, sehingga berisiko tinggi menyebabkan ketergantungan.
Padahal, penyalahgunaan sabu bisa menimbulkan berbagai dampak merugikan bagi kesehatan dan kehidupan. Maka dari itu, penyalahgunaan sabu perlu segera dihentikan.
Namun, penghentian penggunaan secara tiba-tiba berpotensi menyebabkan gejala sakau yang mengganggu, seperti:
Mudah marah
Depresi
Peningkatan nafsu makan
Otot sakit
Perubahan kebiasaan tidur
Paranoia
Halusinasi
Umumnya, gejala sakau sabu berlangsung antara 1 sampai 2 minggu. Namun, gejala psikologis bisa berlangsung lebih lama daripada kurun waktu tersebut.
Penghentian penggunaan sabu lebih dianjurkan menggunakan bantuan tenaga profesional.
Tujuannya yaitu untuk memastikan proses detoksifikasi dan pemulihan berlangsung dengan aman.
Detoksifikasi sendiri merujuk pada proses untuk menghilangkan substansi narkoba dari dalam tubuh.
Proses ini biasanya diikuti oleh tahapan rehabilitasi lain untuk mendukung pemulihan, seperti konseling dan after care.
Pengawasan oleh tenaga medis menjadi lebih krusial untuk membantu pemulihan korban penyalahguna sabu bersamaan dengan substansi lain, seperti alkohol dan benzodiazepine.
Itulah penjelasan mengenai berapa lama sabu bertahan dalam tubuh. Sesuai dengan sistem tubuh yang perlu waktu lama untuk memproses dan menghilangkan sabu, efeknya juga bisa tahan lebih lama daripada stimulan lain.
Posting Komentar untuk "Berapa Lama Sabu Bertahan dalam Tubuh?"