Tes Psikologi Dapat Mengenali Jenis Gangguan Mental? Cek Penjelasannya

 Apakah tes psikologi dapat mengenali jenis gangguan mental? Sebelum mengetahui jawabannya, Anda harus tahu terlebih dahulu mengenai apa itu tes psikologi.

Tes psikologi adalah tes yang bertujuan untuk memberikan penilaian tentang keadaan emosi, kecerdasan, dan perilaku seseorang. Biasanya tes ini dilakukan oleh psikolog profesional.

Tes psikologi memiliki sebutan lain yaitu tes kesehatan mental. Selain itu, tes satu ini juga dapat dilakukan dengan berbagai metode seperti wawancara, observasi, atau menggunakan alat.

Apakah Tes Psikologi Dapat Mengenali Jenis Gangguan Mental?
Tes Psikologi Dapat Mengenali Jenis Gangguan Mental? Cek Penjelasannya

Mungkin selama ini Anda mengira bahwa tes psikologi hanya bertujuan untuk mengetahui karakter seseorang saja. Sebagai contoh, sebuah perusahaan yang mengadakan tes psikologi dalam proses perekrutan karyawan.

Dalam melakukan tes ini, perusahaan melakukan kerjasama dengan lembaga psikologi profesional atau rumah sakit. Tes psikologi ini juga bertujuan untuk mengetahui karakter masing-masing karyawan.

Jika dianggap cocok dengan budaya perusahaan, maka akan lanjut ke tahap selanjutnya. Dan jika tidak cocok, maka harus gugur dan tidak bisa mengikuti tahap berikutnya.

Namun, tahukah Anda? Tes psikologi atau tes kesehatan mental bertujuan lebih daripada itu. Tes psikologi juga dapat mendeteksi gangguan mental.

Contohnya yaitu gangguan bipolar, depresi, stres, skizofrenia, ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), dan gangguan kecemasan.

Psikolog bisa melakukan tes psikologi untuk mengetahui penyebab dan cara mengatasi gangguan tersebut. Prosesnya bisa memakan waktu beberapa jam atau bahkan bisa lebih dari 24 jam.

Jenis Tes Kesehatan Mental untuk Mengetahui Gangguan Mental

Ada beberapa jenis tes psikologi atau kesehatan mental yang dapat mendeteksi adanya gangguan mental atau kejiwaan yaitu:

1. MMPI

Tes psikologi dapat mengenali jenis gangguan mental salah satunya dengan metode MMPI atau Minnesota Multiphasic Personality Inventory. Tes ini dapat mendeteksi gangguan kejiwaan seperti depresi dan gangguan kecemasan.

Tidak hanya itu saja, MMPI juga dapat menjadi bahan evaluasi kesehatan mental seseorang. Tes kesehatan mental ini juga sering diaplikasikan pada kasus hukum.

Misalnya kasus perebutan hak asuh anak. Dengan tes MMPI, pihak berwajib jadi tahu mana orang tua yang memiliki kesehatan mental lebih baik sehingga lebih cenderung bisa mengasuh anak tersebut.

Pada pemeriksaan ini, seseorang harus menjawab dengan jawaban benar atau salah. Nantinya dokter akan tahu apakah orang tersebut mengalami masalah kesehatan jiwa ataukah tidak.

2. PHQ-9

PHQ-9 merupakan singkatan dari Patient Health Questionnaire–9. Tes ini bertujuan untuk mendeteksi apakah seseorang mengalami depresi atau tidak.

Cara melakukan tes Patient Health Questionnaire–9 adalah dengan menjawab pertanyaan pendek yang jawabannya antara tidak pernah, pernah, atau hampir setiap hari.

Dari hasil tes ini dapat diketahui juga tingkat keparahan dari depresi tersebut. Semakin tinggi skornya maka semakin parah depresinya sehingga membutuhkan penanganan khusus.

Sedangkan jika skornya rendah, maka tingkat depresinya tidak terlalu parah sehingga penanganannya pasti berbeda.

3. BDI

Sama halnya seperti PHQ-9, BDI juga merupakan tes yang berfungsi untuk mengetahui tingkatan depresi seseorang. BDI itu singkatan dari Beck Depression Inventory.

Hanya saja yang membedakan adalah metode tesnya. Untuk tes Beck Depression Inventory ini, seseorang harus menjawab pertanyaan pilihan ganda yang jumlahnya 20 soal.

Tes satu ini juga bertujuan mengevaluasi 21 gejala depresi, 15 gejala emosi, 6 gejala somatik, dan 4 gejala perubahan perilaku. Nilai tes antara 10 hingga 18 menunjukkan depresi ringan, sedangkan skor di atas 30 tanda depresi berat.

4. STEPI

Tes psikologi dapat mengenali jenis gangguan mental melalui tes STEPI atau Schizophrenia Test and Early Psychosis Indicator. Sesuai dengan namanya, tes ini bertujuan untuk mengetahui gejala skizofrenia.

Cara melakukannya adalah dengan menjawab 17 pertanyaan seputar kehidupan sehari-hari. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa menunjukkan kecenderungan mengalami halusinasi atau delusi.

5. Y-BOCS

Y-BOCS atau Yale-Brown Obsessive Compulsive Scale adalah tes kesehatan mental yang bertujuan untuk mendiagnosa gangguan obsesif kompulsif atau OCD. 

Ada 10 pertanyaan yang harus dijawab pasien sehingga dokter dapat mengetahui tingkat keparahannya. Pada tes ini terdapat dua jenis skor untuk menilai gejala kompulsi dan obsesi.

Apabila skornya tinggi maka semakin parah gangguannya. Gejala obsesi dibuktikan dari soal nomor 1 sampai 5, sedangkan gejala kompulsif ada pada nomor 6 sampai 10.

6. HAM-A

Jenis tes kesehatan mental berikutnya adalah HAM-A atau Hamilton Anxiety Scale. Tes ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keparahan gangguan kecemasan seseorang.

Jumlah soal yang harus dijawab ada 14 untuk dapat mengukur apakah orang tersebut mengalami gangguan kecemasan atau tidak. 

Ada dua kategori utama pada tes Hamilton Anxiety Scale yaitu gejala kecemasan psikis dan gejala kecemasan somatik.

Jika skornya antara 8-17 maka menunjukkan gejala kecemasan ringan. Sementara itu, jika skornya di atas 25 maka gejala kecemasannya tergolong parah yang mungkin membutuhkan pengobatan khusus.

Semua tes ini, memang rata-rata dalam bentuk tes tertulis dan juga wawancara oleh psikologi, psikiater, atau orang-orang yang ahli dalam bidang mental maupun psikis. 

Cara Mengatasi Gangguan Mental

Setelah melakukan tes psikologi atau kesehatan mental, tentu saja seorang dokter atau psikolog bisa mengetahui apakah orang tersebut mengalami masalah mental atau tidak.

Jika memang mengalaminya, maka harus dilakukan pengobatan. Biasanya, psikolog akan melakukan psikoterapi pada penderita penyakit mental yang terdiri atas.

1. Terapi Berbicara

Pada terapi ini, psikolog akan melakukan konseling dengan cara berbicara dengan penderita empat mata dari hati ke hati. Selain itu, apabila diperlukan pembicaraan bisa melibatkan anggota keluarga atau teman.

Terapi ini sebenarnya bertujuan untuk memberi dukungan dalam menghadapi permasalahan. Selain itu, psikolog biasanya juga memberikan saran bagaimana cara mencegah atau mengendalikan stres.

2. Teknik Relaksasi

Cara lain mengatasi masalah kesehatan mental adalah dengan teknik relaksasi. Teknik ini bertujuan untuk supaya Anda lebih tenang dalam menghadapi stres.

Dengan begitu, Anda bisa menentukan siap dan bisa menemukan jalan keluar atas masalah yang sedang dihadapi.

Jadi, kesimpulannya adalah tes psikologi dapat mengenali jenis gangguan mental pada seseorang. 

Jika ada orang atau keluarga yang mengalami hal sama, kami ada rekomendasi tempat penyembuhan berbagai penyakit mental.

Lentera Bersinar Indonesia, Tempat Rehabilitasi Terbaik di Indonesia

Lentera Bersinar Indonesia dapat membantu mengatasi berbagai masalah mental. Kami memiliki program terbaik dan komprehensif.

Ada tenaga profesional yang terlibat pada program ini. Dokter, psikolog, psikiater, konselor, dan perawat yang memiliki pengalaman tinggi turut membantu pasien dalam mengikuti program rehabilitasi dari awal sampai akhir.

Lentera Bersinar Indonesia memiliki fasilitas yang sangat lengkap. Mulai dari kasur, tempat ibadah, meja, sofa, dapur. dan masih banyak lagi yang lainnya. Hal ini membuat siapapun merasa nyaman mengikuti programnya.

Selain itu, setiap pasien juga belajar ilmu agama yang bertujuan untuk lebih mendekatkan diri dengan Tuhan. Setiap pasien akan didampingi pemuka agama sesuai kepercayaannya masing-masing.

Atasi masalah kesehatan mental sekarang juga. Konsultasikan dengan tim Lentera Bersinar Indonesia.

Posting Komentar untuk "Tes Psikologi Dapat Mengenali Jenis Gangguan Mental? Cek Penjelasannya"