Mengenal Ganja: Pengertian, Dampak, dan Pengobatannya
Ganja, yang secara ilmiah dikenal sebagai *Cannabis sativa*, termasuk salah satu zat narkotika yang paling banyak disalahgunakan di Indonesia hingga saat ini.
Menurut Data Indonesia, Badan Narkotika Nasional (BNN) sudah mencatat ada 6.894 kasus dalam dari tahun 2009 – 2021.
Berdasarkan data itu, psikotropika jenis ini menjadi barang bukti yang paling banyak disita oleh BNN. Dalam kurun waktu 12 tahun sesuai periode pengumpulan data, totalnya mencapai 28,47 ton.
Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan ganja cukup masif di Indonesia. Padahal, dampak penggunaannya terbilang negatif dan merugikan.
Mari, pelajari bersama pengertian ganja dan dampaknya serta mengapa pemerintah masih mengkategorikannya sebagai ‘barang’ ilegal meskipun di beberapa negara lain sudah legal.
Apa Itu Ganja?
Pertanyaan paling mendasar tentu saja soal apa itu ganja sebenarnya. Ganja termasuk golongan psikotropika yang mengandung senyawa aktif utama bernama tetrahydrocannabinol (THC), zat kimia inilah yang menyebabkan efek psikoaktif pada penggunanya.
Zat inilah yang membuat setiap penggunanya mengalami euforia. Psikotropika ini juga menghasilkan zat lain bernama kanabidiol dan kanabinol.
Memiliki nama lain marijuana, biasanya psikotropika yang penggunaannya sangat besar di Indonesia ini berasal dari pohon. Tanamannya bisa mencapai tinggi hingga dua meter.
Daunnya menjadi bagian yang sering paling sering disalahgunakan. Ada bunga jantan serta betina. Bunganya kecil-kecil dan berada di dompolan ujung ranting.
Tanaman ganja terdiri dari daun, bunga, batang, serta biji yang sudah dikeringkan, dan di dalamnya terkandung lebih dari 100 jenis cannabinoid. Dua di antaranya yang paling dikenal karena sifat psikoaktifnya adalah Cannabidiol (CBD) dan Tetrahydrocannabinol (THC). Tanaman ini punya banyak sebutan populer di berbagai tempat, seperti ganja, weed, pot, grass, marijuana, hingga mary jane.
Sedangkan, untuk produknya ada hemp, charas, hashish, bhang, dagga, dan sinsemilla.
Di Indonesia, ada aturan yang melarang penggunaan ganja. Salah satunya, aturan yang mengkategorikan ganja sebagai narkotika golongan I bersama ‘teman lainnya’ yakni opium mentah, daun koka, kokain mentah, metamefina, dan heroin.
Hal ini tercantum pada UU No.35 Tahun 2009 mengenai Narkotika.
Jadi, apakah ganja itu termasuk narkoba? Jawabannya jelas: iya. Ganja memang masuk dalam kategori narkotika sesuai ketentuan yang berlaku.
Dampak Negatif Penggunaannya pada Tubuh
Marijuana, mary jane, atau ganja ini merupakan jenis psikotropika yang bisa mendatangkan efek negatif pada tubuh. Melansir sejumlah laman kesehatan, ini dampak negatifnya:
1. Gangguan Pernapasan
National Institute on Drug Abuse mengeluarkan jurnal yang menjelaskan bahwa ganja bisa menyebabkan gangguan pernapasan. Hal ini bisa terjadi karena asap ganja mengakibatkan iritasi di bagian dinding paru-paru.
Salah satu penyebabnya yakni zat THC dan TBD yang sama dengan zat pada tembakau. Maka, kondisi ini juga ada kaitannya dengan masalah kesehatan seperti batuk, dahak, dan punya risiko infeksi paru yang lebih tinggi.
2. Terganggunya Fungsi Otak
Penggunaan ganja secara terus-menerus bisa memicu gangguan kognitif, memori kerja, juga perilaku impulsif. Maka, aktivitas sehari-hari pecandunya akan terganggu.
Ada analisis yang menunjukkan bahwa efek ganja pada seseorang membahayakan. Salah satunya, analisis yang menunjukkan bahwa pengguna ganja, mengalami peningkatan kecelakaan motor sampai 3%.
Bisa terjadi karena struktur otak mengalami perubahan. Adapun bagian yang berubah yakni pre-frontal cortex (PFC), hippocampus, dan serebelum.
Maka tidak heran, jika pengguna ganja mengalami penurunan fungsi kognitif, defisit pembelajaran verbal, dan menurunnya kemampuan memori.
3. Penurunan Kesuburan Pria
Pengguna ganja kering atau berbagai jenis olahan lain dari psikotropika satu ini bisa mengalami penurunan tingkat kesuburan. Utamanya bagi pria.
Beberapa penelitian menemukan bahwa pria yang rutin menggunakan ganja cenderung memiliki kualitas sperma yang lebih rendah. Hal ini pun bisa berpengaruh pada tingkat kesuburannya secara keseluruhan.
Tak hanya itu, selain kualitas, jumlah sperma seorang pengguna juga akan mengalami penurunan hingga 29%.
4. Berisiko Mengalami Gangguan Mental
Kesehatan mental dari pecandu psikotropika ini juga memiliki risiko mengalami gangguan mental. Alasannya karena ganja memang memicu sejumlah gejala psikosis:
Halusinasi
Ilusi
Euforia
Lambat laun, berbagai gejala psikosis ini bisa berkembang jadi skizofernia. Penggunanya pun cenderung mudah cemas dan gampang mengalami panick attack.
Parahnya lagi, pengguna narkotika golongan I ini dapat mengalami gangguan bipolar dan perilaku yang mengarahkannya pada bunuh diri.
5. Imun Tubuh Melemah
Dedaunan ini juga bisa membuat imun tubuh melemah. Ada penelitian yang memang menunjukkan jika narkotika yang penggunaannya cukup marak di Indonesia bisa melemahkan imun seperti HIV/AIDS.
Bahaya? Tentu saja. Mengapa? Pastinya karena dengan imunitas yang menurun, tubuh jadi sukar melawan infeksi. Akhirnya, pengguna tanaman psikotropika satu ini gampang tertular dan sembuh dari penyakit.
Ciri-Ciri Pengguna Ganja
Secara fisik, memang sukar mengenali ciri-ciri ganja. Namun, pada level pecandu, biasanya muncul perilaku seperti sakau sebelum tubuh bisa bersih dari ketergantungannya. Itu hanya salah satunya. Berikut ciri lainnya:
1. Ciri Fisik
Pertama, pengguna ganja juga memiliki ciri fisik yang bisa diamati. Adapun ciri fisik yang timbul seperti:
Mual
Sakit perut
Berkeringat
Panas dingin
Demam
Gemetar
Koordinasi buruk dari otot
Reaksi lambat
Mata merah
2. Ciri Emosional
Ciri penggunanya pun muncul dari segi emosional. Memang, ada sejumlah perbedaan dari pecandu dan non-pengguna. Ini dia cirinya:
Gampang marah
Cemas
Gugup
Depresi
Gelisah
Mood swing parah
Berkurangnya nafsu makan
Penurunan berat badan secara drastis
Perubahan pola tidur
Metode Pengobatan untuk Pecandu Ganja
Sebenarnya, orang yang kecanduan ganja bisa berhenti sendiri. Hal ini karena gejalanya bisa menghilang seiring waktu.
Namun, khusus pengguna kronis yang mengalami kecanduan psikologis sangat membutuhkan fasilitas rehabilitasi narkoba agar kembali seperti kondisi awalnya. Yup, rehabilitasi adalah jawabannya.
Ada tiga tahap utama dalam rehabilitasi narkoba termasuk untuk pecandu ganja:
1. Rehabilitasi Medis
Pertama kali, pecandu akan melalui pemeriksaan kondisi kesehatan. Baik itu secara fisik atau psikis.
Nantinya, dokter yang memeriksa akan memutuskan pecandu butuh obat tertentu atau tidak. Pemberian obatnya tergantung jenis narkoba yang digunakan.
Namun, tak jarang ada rehabilitasi tanpa pemberian obat selama gejala sakau dan kondisi fisik ataupun psikisnya belum terlalu parah.
2. Rehabilitasi Non Medis
Setelah bebas dari sakau atau gejala putus obat, akan ada tahapan rehabilitasi non medis. Sama-sama penting karena rehabilitasi ini melibatkan pendekatan konseling hingga kegiatan keagamaan.
Konseling bersama psikolog, bertujuan untuk mengetahui cara mengatasi kecanduan ganja. Ada juga terapi kelompok yang membuat setiap pecandu bisa saling memberi support agar bebas dari narkoba.
3. Tahap After Care
Terakhir, yakni tahap after care. Setiap pecandu akan memperoleh aktivitas untuk mengembangkan minat dan bakatnya.
Pecandu pun bisa kembali beraktivitas normal seperti biasa. Namun, tetap harus dalam pengawasan BNN.
Cara Mencegah Kecanduan Ganja
Sebenarnya, tidak ada cara mutlak untuk mencegah siapapun dari kecanduan ganja. Hanya saja, ada sejumlah hal yang patut dilakukan agar tidak terjerumus ke dalam penggunaan psikotropika ini:
Mengetahui bahaya penggunaannya.
Mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Esa.
Lebih dekat dengan keluarga.
Bergaul dengan lingkungan pertemanan yang positif.
Belajar metode menyalurkan emosi negatif ke hal positif.
Mempelajari dari awal mulai dari pengertian ganja hingga dampak buruknya jadi sangat penting untuk hari ini. Yuk, jauhi narkoba!

Posting Komentar untuk "Mengenal Ganja: Pengertian, Dampak, dan Pengobatannya"