6 Alasan Orang Bisa Mengalami Adiksi dan Penanganannya
Berawal dari rasa penasaran kemudian suka dan berakhir pada ketergantungan atau adiksi, bisa merusak otak seseorang. Alasan orang bisa mengalami adiksi bukan hanya internal tetapi juga eksternal.
Adiksi yang menjadi salah satu masalah kesehatan mental dapat menyerang orang pada segala usia, gender maupun kelas sosial. Bentuk ketergantungan pun beragam seperti narkoba, game, nikotin, seks dan masih banyak lagi.
Mengenali alasan ketergantungan bisa menjadi langkah preventif di semua lingkungan. Oleh karena itu, Anda yang merupakan orang tua, kakak, adik perlu memahami alasan-alasannya ini.
6 Alasan Orang Bisa Mengalami Adiksi yang Wajib Diwaspadai
Tanda-tanda seseorang ketergantungan adalah menyukai sesuatu secara berlebihan dan menginginkannya tanpa henti. Jika hal ini terus berlanjut maka akan sulit mengendalikan apa yang dilakukan baik itu aktivitas atau mengonsumsi sesuatu.
Adiksi dalam psikologi juga akan berdampak pada perubahan perilaku seseorang yang mempengaruhi fisik maupun mental. Penyebabnya sendiri ada berbagai macam mulai dari faktor internal dan eksternal seperti berikut:
1. Adanya Perubahan pada Otak
Alasan yang kerap terjadi adalah adanya perubahan dalam otak karena mencoba menggunakan zat maupun aktivitas tertentu. Contohnya, mengonsumsi minuman keras, merokok atau narkoba.
Meskipun beberapa orang menghindari zat kimia tersebut, tetapi ada orang yang merasa ketagihan setelah sekali menggunakannya. Hal tersebut disebabkan setelah mengkonsumsinya ada perasaan puas dan senang.
Kesenangan tersebut mempengaruhi lobus frontal otak sehingga terjadi kerusakan pada korteks cingulate anterior dan nucleus accumbens. Akibatnya, sensasi menyenangkan muncul dan terus menciptakan ketergantungan.
2. Mengalami Gangguan Mental
Penyakit mental atau gangguan mental juga bisa menjadi alasan orang bisa mengalami adiksi. Gangguan mental adalah kondisi kesehatan yang bisa mempengaruhi perasaan, perilaku, suasana hati hingga pemikiran.
Masalah kesehatan ini bisa bermula dari depresi sehingga mempengaruhi kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Kecenderungan mencari pelarian untuk mendapat kesenangan pun kerap terjadi.
Seseorang yang mengalami gangguan mental akan mudah mengalami ketergantungan sebagai bentuk pelariannya. Contoh gangguan mental yang mengakibatkan ketergantungan seperti gangguan bipolar dan skizofrenia.
3. Faktor Genetik
Penyebab lain dari adiksi juga bisa berasal dari faktor genetik. Melansir Psychology Today, sebuah studi membuktikan bahwa 50% ketergantungan terjadi karena genetik.
Contohnya, seorang anak dengan keluarga yaitu orang tua yang ketergantungan alkohol dan nikotin. Biasanya pada waktu dewasa anak tersebut akan mengalami ketergantungan hal yang sama.
Hal serupa juga terlihat pada seekor hewan yang diberikan jenis makanan tertentu dan menyukainya maka akan terus mencari makanan tersebut. Secara tidak langsung, potensi ketergantungan ada pada setiap otak makhluk hidup.
4. Faktor Lingkungan
Banyak yang mengatakan bahwa lingkungan dapat membentuk seseorang. Hal ini juga yang menjadi alasan orang bisa mengalami adiksi. Lingkungan menciptakan pola pikir dan juga kebiasaan yang mungkin saja mengarah pada ketergantungan.
Misalnya, anak remaja tidak mendapat perhatian orang tua yang sibuk bekerja. Pada usia remaja, mereka rentan bergaul dengan lingkungan buruk yang menggunakan narkoba. Jadi, tidak heran jika anak tersebut mengalami ketergantungan narkoba.
Begitu juga dengan remaja yang mengalami adiksi perilaku seperti seksual. Adiksi perilaku adalah ketergantungan pada kegiatan yang membuat dirinya menjadi senang. Dampak buruknya bukan hanya pada diri sendiri tetapi juga orang lain.
5. Trauma Masa Kecil
Trauma masa kecil seperti mengalami kekerasan dalam keluarga akan menimbulkan serangkaian dampak buruk di masa depan. Rangkaian tersebut dimulai dari prestasi yang buruk, pengangguran dan perilaku kesehatan.
Ketika trauma tersebut tidak segera diatasi maka akan menimbulkan stres berkepanjangan. Hal ini mengakibatkan produksi kortisol yang berlebihan dan berbahaya bagi otak.
Daya ingat dapat berkurang dan mengubah arah perkembangan otak sehingga adiksi adalah dampak terbesar yang muncul. Perkembangan otak yang terganggu juga berakibat mengganggu regulasi emosi anak di masa depan.
6. Stres dan Tekanan Berat
Stres mampu menciptakan adiksi pada jenis perilaku non adaptif. Pasalnya, seseorang yang mengalami stres atau tekanan berat lebih memilih untuk meningkatkan efek menyenangkan dari zat yang dikonsumsi.
Stres karena peristiwa tertentu atau tekanan berat di lingkungan keluarga dan pekerjaan bisa menjadi pemicu utamanya. Tekanan ini akan mengubah reaktivitas struktur otak yang mengatur pembelajaran, motivasi dan pengendalian impulsif.
Seseorang yang mengalami stres juga kerap mengalami gangguan mood dan kecemasan yang mengarah pada ketergantungan.
3 Cara Mengatasi Ketergantungan
Adiksi tidak terjadi secara cepat melainkan sesuatu yang berulang. Contoh adiksi narkoba, seseorang mengalami ketergantungan karena telah menggunakan zat berupa narkoba secara berulang.
Satu kali penggunaan bisa memotivasi minat sehingga mengulangi pengalaman tersebut. Saat sudah mengalami ketergantungan, beberapa penanganan berikut ini sangat penting.
1. Psikoterapi
Terapi merupakan jawaban terbesar untuk mengatasi ketergantungan apapun, baik itu narkoba, perilaku, dan lainnya. Psikoterapi bertujuan untuk mengatasi pola pikir dan perilaku yang menyebabkan kecanduan.
Jenis psikoterapi pun beragam seperti terapi perilaku kognitif (CBT) yang tujuannya mengevaluasi dan mengubah pola pikir terhadap kesehatan mental. Ada juga terapi interpersonal yang memandu seseorang untuk menilai cara bersosialisasi.
Bagi seseorang yang pernah mengalami trauma, maka perlu mendapatkan psikoanalitik dan psikodinamik. Terapi ini bertujuan mencari tahu kejadian yang mempengaruhi perilaku ketergantungan.
2. Penggunaan Obat-obatan
Terapi obat juga perlu untuk menekan ketergantungan, khususnya untuk orang yang baru saja ingin berhenti dari narkoba. Obat-obatan sesuai resep dokter akan mencegah kambuhan sehingga perlu pengawasan.
Begitu juga dengan pemberian obat-obatan untuk mengatasi ketergantungan karena gangguan mental. Dokter akan memberikan obat yang bertujuan memberikan penenang seperti alprazolam, lorazepam dan diazepam.
3. Rehabilitasi
Mengikuti rehabilitasi juga menjadi penanganan ketergantungan yang cukup efektif. Orang yang mengikuti rehabilitasi akan mendapat layanan seperti konseling, dukungan psikologi, edukasi dan aktivitas positif lainnya.
Harapannya dengan berbagai kegiatan tersebut, orang yang mengalami ketergantungan bisa mengelola adiksi dalam jangka panjang. Selain itu, bagus juga untuk menerapkan gaya hidup yang lebih sehat.
Rehabilitasi tidak selalu mengikuti kegiatan di fasilitas rehabilitasi dengan menginap hingga beberapa bulan. Beberapa jenis ketergantungan tertentu hanya perlu mengikuti rehabilitasi berdasarkan jadwal yang telah dibuat.
4. Dukungan dari Banyak Orang
Penanganan ketergantungan tidak dapat berjalan secara mandiri dan dengan tim medis atau psikiater. Perlu juga dukungan dari banyak orang seperti keluarga dan juga kerabat dekat.
Contohnya ketika seorang remaja mengalami ketergantungan narkoba pertama kalinya. Setelah menjalani rehabilitasi, pending adanya dukungan mengatasi adiksi dalam rumah tangga.
Dukungan keluarga akan menjadi motivasi besar seseorang untuk berhenti dan menjalani kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, kesadaran dari pihak keluarga juga sangat penting.
Inilah alasan orang bisa mengalami adiksi yang penting untuk diketahui dan diperhatikan. Jangan sampai orang di sekitar Anda ternyata mengalami salah satu dari alasan tersebut.
Apabila ada, pastikan untuk memberikan dukungan yang lebih besar agar segera terbebas dari ketergantungan.

Posting Komentar untuk "6 Alasan Orang Bisa Mengalami Adiksi dan Penanganannya "